Advertisement

LIFESTYLE DUNIA: SUKA PAMER

Momen Presiden Joko Widodo memanggil Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hingga seluruh kapolres di Indonesia ke Istana Merdeka pada hari Jumat, 14 Oktober 2022 menjadi sejarah baru. Sebab, ini bukan hal yang biasa dilakukan oleh presiden.

Para pejabat kepolisian diminta mengenakan pakaian dinas lapangan (PDL) tanpa tutup kepala dan tanpa tongkat. Juga dilarang membawa ponsel. Mereka hanya boleh membawa buku catatan dan pulpen. Polisi yang hadir juga tidak boleh membawa ajudan atau sering disebut sebagai ADC.

Presiden Joko Widodo menegur pejabat di kepolisian tidak arogan dan memamerkan kekayaan di depan publik. Apalagi banyak oknum pejabat polri yang pamer mobil mewah dan motor gede.

“Saya ingatkan masalah gaya hidup.  Lifestyle, jangan sampai dalam situasi yang sulit ada letupan-letupan sosial karena adanya kecemburuan sosial ekonomi. Hati-hati,” kata Jokowi.

Ini menanggapi beberapa kasus yang terjadi ketika para pejabat kepolisian memamerkan koleksi mobil mewah dan motor gedenya. Terlebih hal tersebut diperlihatkan ketika kondisi ekonomi Indonesia sedang menurun akibat pandemi Covid-19.

Baca: Memberi Yang Terbaik

Sara Sechan, seorang presenter ternama di Indonesia memutuskan untuk menutup akun sosial medianya yang memiliki 150 ribu pengikut di Instagram dan 2,6 juta Twitter.

Ketika ditanya, apa alasan melakukan langkah itu? Dia menjawab bahwa kehidupan di media sosial itu melelahkan dan menyita waktu-waktunya yang berharga.

Di zaman now semua orang memiliki akun media sosial, bahkan bisa lebih dari satu akun dari berbagai jenis media sosial, sebenarnya ini wajar saja.

Namun, yang menjadi masalah adalah jika kita benar-benar hidup dalam dunia maya tersebut dan menjadi sarana untuk memamerkan apa yang Tuhan berikan buat kita.

Gaya hidup tinggi dan penuh pencitraan telah menjadi tujuan demi menciptakan image yang wah, padahal hal ini menimbulkan dampak buruk bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Seringkali kita berlomba-lomba memamerkan foto traveling, barang branded atau wisata kuliner hanya demi gengsi dan status sosial.

Tahukah kita bahwa orang yang selalu memamerkan kehidupan mewah dan indah di media sosial sesungguhnya secara psikologi sedang membutuhkan pengakuan dari orang lain.

Itu sebabnya orang yang sungguh-sungguh kaya tidak akan melakukan hal-hal yang akan menunjukkan bahwa dirinya memiliki segalanya.

Tuhan menginginkan kita memiliki kehidupan mulia di tengah arus teknologi yang makin tinggi dengan memegang teguh nilai-nilai kebenaran.

Baca: Mendelegasikan Tugas dan Mengembangkan Orang - John Maxwell

Kita tidak mungkin dapat menjadi teladan bagi orang yang belum mengenal Tuhan jika gaya hidup kita pun seperti mereka.

Firman Tuhan berkata, “Berkatilah aku dengan kehadiran-Mu, dan ajarilah aku ketetapan-Mu” (Mazmur 119:135).

Kita harus meminta Tuhan untuk mengajari kita untuk hidup menyenangkan-Nya, karena menyenangkan Tuhan adalah tujuan utama hidup kita yang sudah diselamatkan.

Kita bisa menyenangkan Tuhan lewat setiap kegiatan yang kita lakukan, yakni tidak memamerkan kelebihan kita di media sosial.

Sadarlah bahwa dengan memerkan apa yang kita punya menjauhkan kita dari pengakuan bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan dan dapat menjadikan kita sombong. 

Paulus berkata, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun” (1 Korintus 6:12).

Jangan diperhamba oleh media sosial dan janganlah suka pamer!

 


Posting Komentar

2 Komentar

Anonim mengatakan…
Amin. 🙏
D'Anthony mengatakan…
Sangat memberkati 🙏