Advertisement

MENGENDALIKAN LIDAH

Bernard Baruch adalah pengusaha muda yang ambisius. Ia mengajak seorang konglomerat bernama J P. Morgan untuk bekerja sama dalam usaha pertambangan belerang di Texas.

 

Para ahli geologi melaporkan bahwa proyek tersebut akan menguntungkan. Morgan sangat tertarik, sampai tiba-tiba Baruch berkata, “Anda pasti pernah berjudi dengan taruhan yang lebih besar dari semua risiko ini.”

 

Morgan menatapnya tajam, kemudian menjawab dengan nada dingin, “Saya tidak pernah berjudi.” Kata berjudi itu telah menggagalkan perjanjian kerja sama tersebut.

 

Morgan beranggapan bahwa menanam modal merupakan hal yang terhormat, sedangkan berjudi itu suatu dosa

 

Baca: Fatherless Part 2

 

Kata-kata semacam itu dapat menghancurkan reputasi seseorang dan merusak hubungan yang paling dekat sekalipun.

 

Firman Tuhan berkata, “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya” (Yakobus 3:2

 

Semua orang pernah bersalah dengan perkataannya. Karena itu, Yakobus memperingatkan kita tentang kekuatan lidah. Lidah sangat sulit dikendalikan (Yakobus 3:3-8).

 

Lidah sebagai “api” yang dinyalakan oleh api neraka sendiri, dan “sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan” (Yakobus 3:6,8).

 

Alangkah bijaksana bila setiap hari kita berdoa, “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku” (Mazmur 141:3).

 

Dengan menyerahkan kontrol bibir kita kepada Tuhan dan berusaha untuk tidak cepat berkata-kata maka kita mampu mengendalikan lidah kita.

 

Baca: Memupuk Keahlian tentang Orang - John Maxwell

Realita kehidupan yang baik akan kita miliki jika kita menjaga lidah atau perkataan dengan tidak berkata-kata yang jahat, tetapi justru membiasakan diri untuk memperkatakan yang baik.

 

Oleh sebab itu, berhati-hatilah menggunakan lidah kita. Kata-kata kasar, kata-kata dusta, fitnah, gosip, umpatan tidak boleh keluar dari mulut kita

 

Sebaliknaya, kata-kata yang baik, lembut, positif, jujur dan membangun itulah yang keluar dari mulut kita. Itu akan menjadi berkat bagi orang lain, akan menyembuhkan dan menguatkan yang lemah.

 

Salomo berkata, “Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya”(Amsal 18:20). Kita akan mengalami berkat Tuhan jika kita mengendalikan lidah kita!

Posting Komentar

1 Komentar

Anonim mengatakan…
Amin, lidah harus dijaga dengan baik. Terimakasih buat renungannya!